. BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa
ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa yang meliputi perubahan biologik, perubahan psikologik, dan perubahan
sosial. Di sebagian masyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai pada
usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun. Sedangkan menurut WHO
(World Health Organization) remaja merupakan individu yang sedang mengalami
masa peralihan yang secara berangsur-angsur mencapai kematangan seksual,
mengalami perubahan jiwa dari kanak-kanak menjadi dewasa, dan mengalami
perubahan keadaan ekonomi dari ketergantungan menjadi relatif mandiri
(Notoatmodjo, 2007).
Sehingga remaja
pada masa peralihan tersebut kemungkinan besar dapat mengalami masa krisis,
yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Kondisi
tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat
kepribadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai
penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan dan
norma yang ada di masyarakat. Dengan adanya kemudahan dalam
menemukan berbagai macam informasi termasuk informasi yang berkaitan dengan
masalah seks, merupakan salah satu faktor yang bisa menjadikan sebagian besar
remaja terjebak dalam perilaku seks yang tidak sehat. Berbagai informasi bisa
diakses oleh para remaja melalui internet atau majalah yang disajikan baik
secara jelas dan secara mentah yaitu hanya mengajarkan cara-cara seks tanpa ada
penjelasan mengenai perilaku seks yang sehat dan dampak seks yang berisiko,
misalnya penyakit yang diakibatkan oleh perilaku seks yang tidak sehat (Notoatmodjo, 2007).
Dalam situs resmi BKKBN terungkap berita yang mengejutkan yaitu sebanyak
63% Remaja Pernah Berhubungan Seks. Menurut hasil survei yang dilakukan salah
satu lembaga, 63 persen remaja di Indonesia usia sekolah SMP dan SMA sudah
melakukan hubungan seksual di luar nikah dan 21 persen di antaranya melakukan
aborsi. “Hasil survai terakhir suatu lembaga survei yang dilakukan di 33
provinsi tahun 2008, sebanyak 63 persen remaja mengaku sudah mengalami hubungan
seks sebelum nikah,” kata Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN) M. Masri Muadz, saat
Peluncuran SMS Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Serang, Jumat (anomin,
2010).
Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) berdasar survei menyatakan separuh remaja perempuan lajang
yang tinggal di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi kehilangan keperawanan
dan melakukan hubungan seks pranikah. Bahkan, tidak sedikit yang hamil di luar
nikah. Rentang usia remaja yang pernah melakukan hubungan seks di luar nikah
antara 13-18 tahun (anomin, 2010).
"Berdasar data yang kami himpun
dari 100 remaja, 51 diantaranya sudah tidak lagi perawan," ujar Kepala
BKKBN Sugiri Syarief ketika ditemui dalam peringatan Hari AIDS sedunia di
lapangan parker IRTI Monas. Ironisnya, temuan serupa juga terjadi di kota-kota
besar lain di Indonesia. Selain di Jabodetabek, data yang sama juga diperoleh
di wilayah lain. Di Surabaya misalnya, remaja perempuan lajang yang
kegadisannya sudah hilang mencapai 54 persen, di Medan 52 persen, Bandung 47
persen, dan Yogyakarta 37 persen. Menurutnya, data ini dikumpulkan BKKBN sepanjang kurun waktu 2010
saja. Fenomena
free seks di kalangan remaja, menurut dia, tidak hanya menyasar pada kalangan
pelajar saja, tetapi juga jamak didapati di kelompok mahasiswa. Dari 1.660
responden mahasiswi di kota pelajar Jogjakarta, sekitar 37 persen mengaku sudah
kehilangan kegadisannya (Didit, 2010)
Sedangkan di
kabupaten Probolinggo pada saat ini
memang atau bisa dibilang 30-60 %
pernah melakukan hubungan layaknya suami istri sebelum menikah. Hampir 50 % terutama anak muda yang
pastinya sudah melakukan hal tersebut bisa dilakukan atau mengulanginya sampai
dua kali atau bahkan lebih. Penyebab hal tersebut terjadi mulai dari segi lingkungan, pergaulan,
ekonomi, kurangnya perhatian orang tua,
buruknya pengawasan, pacaran
yang diluar batas dan akses media yang
bebas. Inilah yang menjadi catatan tersendiri yang
perlu kita ketahui dan juga kita waspadai terutama bagi Orang Tua yang memiliki
anak Perempuan ada beberapa faktor mendasar yang mengakibatkan fenomena ini
menggejala. (anomim, 2011).
Sebagian remaja banyak
yang tidak memikirkan dampak dari dua kemungkinan yang dapat terjadi yaitu
kehamilan yang tidak dikehendaki dan penyakit hubungan seksual. Dan dampak tersebut lebih berakibat terhadap remaja putri , jika dibandingkan
dengan remaja putra, remaja putri paling rentan dalam menghadapi masalah
kesehatan sistem reproduksinya. Secara anatomis remaja putri lebih mudah
terkena infeksi dari luar karena bentuk dan letak organ reproduksinya yang
dekat dengan anus. Dari segi fisiologis, remaja putri akan mengalami
menstruasi, kehamilan di luar nikah, aborsi, dan perilaku seks di luar nikah
yang berisiko terhadap kesehatan reproduksinya. Namun
perilaku seks bebas remaja dan resiko kesehatan reproduksi remaja ini dapat
diminimalisir dengan adanya pendidikan agama dan akhlak, bimbingan orang tua,
dan pendidikan seks serta pengetahuan yang benar tentang kesehatan reproduksi
remaja. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja ini dapat ditingkatkan
dengan pendidikan kesehatan reproduksi yang dimulai dari usia remaja.
Pendidikan kesehatan reproduksi di usia remaja bukan hanya memberikan
pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi juga bahaya akibat pergaulan
bebas, seperti penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak diharapkan
atau kehamilan beresiko tinggi(anomin, 2010).
Hal ini perlu
dilakukan intervensi untuk menekan banyaknya fenomena free seks di kabupaten
Probolinggo dengan program-program atau kebijakan yang akan/telah dilakukan pemerintah
probolinggo agar dapat menekan dan mencegah banyaknya free seks di kabupaten
Probolinggo.
1.2 Tujuan
1.
Mengkaji
faktor penyebab utama terjadinya fenomena free seks di kabupaten
Probolinggo.
2.
Mengkaji
kebijakan pemerintah kabupaten Probolinggo dalam rangka menekan dan mencegah banyaknya free seks di kabupaten Probolinggo.
Dapat memberikan beberapa
program usulan yang berkaitan dengan penanggulangan gizi buruk pada balita di
kabupaten Probolinggo.
BAB II PEMBAHASAN
2.1
Faktor Penyebab Femonena Free Seks dan Dampak bagi
Reproduksi Remaja
2.1.1 Faktor Penyebab Fenomena Free Seks
Penyebab dari remaja melakukan perilaku seks bebas di Kabupaten Probolinggo
adalah dari segi lingkungan, pergaulan, ekonomi, kurangnya perhatian orang tua,
buruknya pengawasan, pacaran yang diluar batas dan akses media yang bebas. Ada
beberapa aspek dan faktor- faktor yang berhubungan atau yang mempengaruhi
kehidupan remaja. Keluarga, sekolah, tetangga merupakan aspek yang secara
langsung mempengaruhu kehidupan remaja. Sedangkan struktur sosial, ekonomi,
politik, dan budaya lingkungan merupakan aspek yang memberikan pengaruhi secara
tidak langsung terhadap kehidupan remaja. Secara garis besarnya ada dua tekanan
pokok yang berhubungan dengan kehidupan remaja, yaitu internal pressure (tekanan dalam diri remaja) dan external pressure (tekanan dari luar
diri remaja). Teori ini akan membantu kita memahami masalah yang dihadapi
remaja salah satunya adalah masalah kesehatan reproduksi (Notoatmodjo, 2007).
Tekanan dari dalam (internal
pressure) merupakan tekanan psikologis dan emosional. Secara psikologi
remaja mengalami perubahan fisik atau biologis dan perubahan psikologis. Perubahan
fisik ditandai dengan pertumbuhan yang sangat cepat dan biasanya disebut
pubertas (Notoatmodjo, 2007). Sehingga dengan adanya perubahan yang seperti
pertambahan berat badan dan tinggi dan kematangan seksual. Sedangkan perubahan
secara psikologi merupakan masa transisi, hal ini yang mengakibatkan remaja
tersebut dalam situasi yang membingungkan. Situasi-situasi yang membingungan
akan menimbulkan konflik yang sering menyebabkan tingkah laku yang aneh,
canggung, dan jika tidak dikontrol maka akan menimbulkan kenakalan. Dengan akses media yang bebas dan gaya berpacaran
yang bebas maka perlunya ada pengawasan dan dampingan dari orang tua dalam
tumbuh kembang remaja dan masa-masa transisi remaja (Notoatmodjo, 2007).
Sedangkan teman sebaya, orang tua, guru, dan masyarakat merupakan sumber
dari luar (external pressure). Apabila
lingkungan mendukung dengan masa transisi remaja yaitu teman dan pergaulan maka
akan mempengaruhi perilaku remaja tersebut. Sehingga perlu adanya kerjasama
antar orang tua yang memperhatikan perkembangan remaja terutama masa-masa
reproduksi remaja agar remaja tidak terjebak terhadap lingkungan yang tidak
baik (Notoatmodjo, 2007).
Secara
umum terdapat 4 (empat) faktor yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi,
yakni:
1. Faktor
sosial-ekonomi, dan demografi. Faktor ini berhubungan dengan kemiskinan,
tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaktauan mengenai perkembangan seksual
dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil.
2. Faktor
budaya dan lingkungan, antara lain adalah praktik tradisional yang berdampak
buruk terhadap kesehatan reproduksi, keyakinan banyak anak banyak rezeki, dan
informasi yang membingungkan anak dan remaja mengenai fungsi dan proses
reproduksi.
3. Faktor
psikologis: keretakan orang tua akan memberikan dampak pada kehidupan remaja,
depresi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharganya
wanita dimata pria yang membeli kebebasan dengan materi.
4. Faktor biologis,
antara lain cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2007).
2.1.2 Dampak Seks Bebas terhadap Kesehatan Reproduksi
Adanya perubahan sikap dan perilaku seksual remaja itu
tertentu akan memberikan dampak terhadap kehidupan mereka, terutama kesehatan
reproduksinya. Hamil dan melahirkan anak diusia muda atau melakukan aborsi
tertular penyakit seksual, dan disidang dalam pengadilan sosial masyarakat
merupakan dampak dari perilaku seksual remaja yang harus diterima remaja (Notoatmodjo, 2007).
Faktor-faktor yang saling
terkait kondisi saat ini menyebabkan perilaku seksual remaja semakin menggejala
akhir-akhir ini. Namun begitu, banyak remaja tidak mengindahkan bahkan tidak
tahu dampak dari perilaku seksual mereka terhadap kesehatan reproduksi baik
dalam waktu yang cepat ataupun dalam waktu yang lebih panjang. Sehubungan
dengan definisi kesehatan reproduksi yang telah dibicarakan terdahulu, berikut
ini akan dibahas mengenai beberapa dampak perilaku seksual remaja pranikah
terhadap kesehatan reproduksi(Notoatmodjo, 2007).
1. Hamil
yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy)
Unwanted pregnancy merupakan
salah satu akibat dari perilaku seksual remaja. Unwanted pregnancy membawa
remaja pada dua pilihan, melanjutkan kehamilan atau menggugurkannya. Khisbiyah
(1995) secara umum ada dua faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan itu,
yakni faktor internal meliputi intensitas hubungan dan komitmen pasangan remaja
untuk menjalin hubungan dalam perkawinan, sikap dan persepsi terhadap janin
yang dikandung, serta persepsi subjektif mengenai kesiapan psikologis dan
ekonomi untuk memasuki kehidupan perkawinan. Yang kedua faktor eksternal
meliputi sikap dan penerimaan orang tua kedua belah pihak, penilaian
masyarakat, nilai-nilai normative dan etis dari lembaga keagamaan, dan
kemungkinan-kemungkinan perubahan hidup di masa depan yang mengikuti
pelaksanaan keputusan yang akan dipilih(Notoatmodjo, 2007).
Banyak remaja putri yang
mengalami unwanted pregnancy terus melanjutkan kehamilannya. Konsekuensi dari
keputusan yang mereka ambil itu adalah melahirkan anak yang dikandungnya dalam
usia yang relative muda. Hamil dan melahirkan dalam usia remaja merupakan salah
satu faktor risiko kehamilan yang tidak jarang membawa kematian ibu. Kematian
ibu yang hamil dan melahirkan pada usia kurang dari 20 tahun lebih besar 3-4
kali dari kematian ibu yang hamil dan melahirkan pada usia 20-35 tahun
(Affandi, 1995).
Tidak sedikit dari mereka
yang mengalami unwanted pregnancy melakukan aborsi. Dari data yang tersedia
dari satu juta kebutuhan induksi haid (aborsi) sekitar 60,0% dilakukan oleh
wanita tidak menikah, termasuk para remaja. Dan sekitar 70,0-80,0 % dari angka
kebutuhan itu termasuk dalam aborsi yang tidak aman (unsafe abortion). Perlu
diketahui pula bahwa unsafe abortion juga merupakan salah satu factor yang
menyebabkan kematian ibu.
2. Penyakit
Menular Seksual (PMS) – HIV/AIDS
Dampak lain dari perilaku
seksual remaja terhadap kesehatan reproduksi adalah tertular PMS termasuk
HIV/AIDS. Seringkali remaja melakukan hubungan seks yang tidak aman adanya
kebiasaan berganti-ganti pasangan dan melakukan anal seks menyebabkan remaja
semakin rentan untuk tertular PMS/HIV, seperti sifilis, Gonore, Herpes,
Klamidia dan AIDS. Dari data yang menunjukkan bahwa diantara penderita atau
kasus HIV/AIDS, 53,0% berusia antara 15-29 tahun. Tidak terbatasnya cara
melakukan hubungan kelamin pada genital-genital saja (bisa juga orogenital)
menyebabkan penyakit kelamin tidak saja terbatas pada daerah genital, tetapi
dapat juga pada daerah ekstragenital(Notoatmodjo, 2007).
3. Psikologis
Dampak lain dari perilaku
seksual remaja yang sangat berhubungan dengan kesehatan reproduksi adalah
konsekuensi psikologis. Setelah kehamilan terjadi, pihak perempuan atau
tepatnya korban utama dalam masalah ini. Kodrat untuk hamil dan melahirkan
menempatkan remaja perempuan dalam posisi terpojok yang sangat dilematis. Dalam
pandangan masyarakat remaja putri yang hamil merupakan ‘aib’ keluarga, yang
secara telak mencoreng nama baik keluarga; dan ia adalah si pendosa yang
melanggar norma-norma sosial dan agama. Penghakiman sosial ini tidak jarang
meresap dan terus tersosialisasi dalam diri remaja putrid tersebut. Perasaan
bingung, cemas, malu, dan bersalah yang dialami remaja setelah mengetahui
kehamilannya bercampur dengan perasaan depresi, pesimis terhadap masa depan dan
kadang disertai rasa benci dan marah baik pada diri sendiri maupun kepada
pasangan, dan kepada nasib membuat kondisi sehat secara fisik, sosial dan
mental yang berhubungan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi remaja
tidak terpenuhi(Notoatmodjo,
2007).
2.2
Kebijakan Kabupaten Probolinggo
Kebijakan yang ada di Kabupaten Probolingo dalam
melakukan intervensi perilaku seks bebas adalah :
a. Pelatihan peningkatan kualitas Petugas PKPR (Pelayanan
Kesehatan Peduli Remaja)
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) merupakan wadah
untuk mengatasi salah satu kasus tersebut, khususnya yang terkait penanganan
masalah kesehatan remaja. Kegiatan ini diikuti oleh 7 Puskesmas
PKPR di Kabupaten Probolinggo. Untuk meningkatkan kesehatan remaja di Kabupaten
Probolinggo, diperlukan petugas PKPR yang solid dalam memberikan pelayanan (Anomin,
2012).
Siti Hijir Kasi Aru pada Dinas Kesehatan mengatakan para
peserta diberi beberapa materi yang merupakan sebuah terobosan untuk
meningkatkan kualitas para petugas PKPR. Para petugas di beri beberapa materi
oleh nara sumber yaitu materi belajar bersama, bermain peran dan juga materi
tentang kesehatan. Selain itu petugas juga diberikan konseling (Anomin, 2012).
Salah satu upaya memecahkan sekaligus mencari solusi
tepat untuk persoalan perilaku menyimpang pada remaja tersebut yakni memberikan
PKPR yang dimaksudkan bisa meningkatkan pengetahuan remaja tentang perilaku dan
reproduksi sehat (Anomin, 2012).
b. Gelar Motivasi dan Training untuk Remaja “Membentuk
Pribadi Remaja Cerdas”
Masa depan suatu
bangsa sangat ditentukan oleh remaja sebagai generasi penerus. Untuk menjadi
bangsa yang besar dan mampu bersaing di tengah arus globalisasi, dibutuhkan
generasi muda yang cerdas, berkualitas dan berakhlak mulia (Mujiono, 2009).
Training ini
dilaksanakan merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan generasi muda dari
dampak negatif perubahanan jaman. Ny. Tantri juga mengingatkan, disamping
menuntut ilmu setinggi mungkin para remaja juga harus dibekali dengan akhlak
dan pondasiagama yang kuat agar tidak mudah terpengaruh dan terombang-ombang
oleh arus globalisasi dengan segala dampak negatifnya (Mujiono, 2009).
c. Talk Show “Problematik Pergaulan Remaja”
Masa remaja dikenal sebagai masa yang paling indah dan
identik dengan pergaulan. Namun, penuh dengan pergolakan dan problematika
hidup. Masa remaja juga dipandang sebgai mas pencarian identitas diri. Karena
itu, sangat penting untuk mengarahkan anaka gaul masa kini untuk bertaqwa (Anomin,
2009).
Semua masalah itu dibahas dalam talk show bertema
“Problematika Pergulatan Remaja, Gaul Asyik Cara Gue” di aula Perpustakaan Umum
Daerah Kabupaten Probolinggo, Kraksaan. Selama talk show, hadir Direktur
Lembaga Pengembangan Diri Kediri, Marenda Darwis, SE. Pemilik Kafe Remaja Ceria
ini menjelaskan, remaja merupakan suatu fase pertumbuhan dan perkembangan yang akan
dihadapi oleh setiap manusia sebgai ciptaan Allah. Menurutnya, remaja adalah
masa setelah melewati usia anak-anak dan akan memasuki usia dewasa. Karena itu,
usia remaja kadang disebut banyak orang sebagai masa-masa transisi yang penuh
dengan ketidaktentuan dan ketidakpastian (Anomin, 2009).
Sebab, pada masa-masa itu remaja diharapkan pada godaan
atau tarikan-tarikan perbuatan yang serba tidak menentu dan tidak jelas. Sejak
dulu remaja atau pemuda menjadi harapan masa depan bangsa. Remaja dapat
dipastikan menjadi pengendali, penentu dan pemimpin masa depan. Sebab,
remajalah yang akan menggantikan generasi-generasi pendahulunya.
Lantas bagaimana
islam memandang problematika dan masa depan remaja? Menurutnya, islam
menempatkan remaja pada kedudukan yang istimewa dan sangat khas. Ada tujuh
kelompok orang yang akan diberikan perlindungan Allah pada hari akhir nanti.
Tiga di antaranya adalah golongan remaja, meskipun yang bukan remaja juga bisa
termasuk di dalamnya. Salah satunya, pemuda yang tumbuh dan berkembang di jalan
ibadan kepada Tuhan. Pemuda seperti ini dapat dikatakan istimewa atau gaul
secara islami. Sebab, dalam usianya yang penuh gejolak dan biasanya menjauh
dari jalah Tuhan, ia malah memilih untuk hidup di jalah Allah (Anomin, 2009).
Sementara itu pembina Forsippta Suharianto mewakili ketua
panitia menuturkan, tujuan talk show untuk memberiakn pemahaman kepada pelajar,
remaja dan anak muda sebagai generasi bangsa. Khususnya tentang pergaulan asyik
dengan caranya sendiri. Dia berkata,” Tetapi yang sesuai dengan aturan agama.
Remaja yang demikian itu baru bisa dikatakan gaul dengan cara gue (Anomin, 2009).
2.3
Program Usulan
a. Membentuk BKR (Bina Keluarga Remaja) dibawa binaan BKKBN
Bentuk kegiatan ini adalah penyuluhan kesehatan
reproduksi
b. Pojok remaja
Kegiatannya yaitu pembinaan remaja, penyuluhan tentang
kesehatan reproduksi remaja, selain itu juga disertai kegiatan yang membuat
perhatian remaja tidak tertuju ke arah sek bebas misalnya olahraga.
c. Adanya pengawasan intensif terhadap media komunikasi.
d. Menambahkan materi tentang kesehatan reproduksi di
kalangan anak sekolah dengan cara pembinaan remaja lewat Bimbingan Konseling

Tidak ada komentar:
Posting Komentar